Postingan

Cinta : Rezeki Yang Tak Bisa Kita Pilih

"إِنَّ الحُبَّ رِزْقٌ، وَإِنَّكَ لَا تَعْرِفُ فِي أَيِّ قَلْبٍ رِزْقُكَ" (Sesungguhnya cinta adalah rezeki, dan engkau tak tahu di hati siapa rezekimu berada.) Cinta: Rezeki yang Tak Bisa Dipetakan Dalam kehidupan yang serba direncanakan ini, kita diajari bahwa segala sesuatu harus dikejar, dipilih, dan ditentukan. Termasuk dalam hal cinta. Kita memilih siapa yang menarik, siapa yang layak dicintai, dan siapa yang dianggap pantas mendampingi. Tapi kalimat sederhana yang bernuansa hikmah ini datang mematahkan seluruh logika tersebut: "Cinta adalah rezeki, dan engkau tak tahu di hati siapa rezekimu berada." Kalimat ini menyetarakan cinta dengan rezeki —dua hal yang seringkali datang tanpa bisa dirancang. Jika rezeki bisa datang dari pintu yang tak kita ketuk, maka cinta pun bisa tumbuh di hati yang tak pernah kita perhitungkan. Dan seringkali, cinta yang menjadi jembatan keselamatan justru hadir dari arah yang kita hindari, atau dari seseorang yang sebelumnya ki...

Negeri 5 Menara

Gambar
Segala Puji bagi Allah, Penjaga Waktu dan Penentu Langkah Segala puji bagi Allah, Sang Pemilik Waktu, yang telah menganugerahkan kepadaku kesempatan untuk menuntaskan sebuah karya—Negeri 5 Menara, buah pena Ahmad Fuadi, yang dalam versi yang kubaca terdiri dari 339 halaman. Betapa tak kusangka, aku benar-benar menyelesaikan bacaan ini. Di tengah padatnya kesibukanku yang, jika boleh kusebut, nyaris menyerupai pusaran tanpa jeda, aku berhasil menyelinap keluar sejenak dari arus itu—duduk diam, berhadapan dengan halaman demi halaman. Sungguh, ini bukan perkara ringan. Rasa bosan terhadap novel sudah lama menyelimutiku, seperti kabut yang enggan pergi. Padahal dulu, aku pernah begitu tergila-gila pada dunia yang diciptakan oleh kata-kata. Buku adalah sahabat paling setia. Aku membawanya ke mana-mana: di meja makan, dalam perjalanan, bahkan hingga ke kamar mandi. Dalam satu tahun, pernah kutaklukkan 200-buku lebih—seolah setiap lembar adalah denyut nadi yang membantuku tetap hi...

Pelatuk yang Gentar

Gambar
"Senjata tak cukup bertaring di tangan orang yang salah. Bahkan, manusia tanpa senjata pun bisa menakutkan karena keberaniannya." — M. Isman Nababan Kisah ini tak mudah saya lupakan. Seorang wanita—lemah secara fisik, dan lebih dikuasai rasa takut daripada keberanian—berhadapan dengan segerombolan laki-laki yang hendak mendekapnya. Ia tahu dirinya terancam. Dengan tangan gemetar dan napas tersengal, ia mengeluarkan sebuah pistol. Sebuah tindakan spontan, bukan dari keberanian, tapi dari rasa takut yang menumpuk. Para laki-laki itu terdiam. Mungkin terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa perempuan yang tampak rapuh itu membawa senjata mematikan. Seketika mereka menahan langkah, mencoba membaca keadaan—karena bagaimanapun juga, pistol di tangan orang yang gentar pun bisa mematikan, jika salah langkah. Namun, rasa takut si wanita lebih besar daripada ancaman mereka. Dan pada akhirnya, dengan wajah pucat dan tangan yang tak berhenti bergetar, ia menembakkan pelurunya ke udara. Buk...

Dari pikiran kita menjado

Gambar
Saya tergugah dengan kata-kata mutiara dari seorang ulama: "Innamal afkaru ummul af'al"—sesungguhnya pikiran adalah induk dari segala perbuatan. Kata-kata ini mengingatkan saya pada betapa besarnya potensi dan pengaruh pikiran dalam membentuk siapa kita, baik secara moral maupun eksistensial. Secara moral, baik buruknya pikiran menentukan baik buruknya perilaku dan akhlak kita. Secara eksistensial, pikiran menentukan arah hidup dan jati diri kita. Maka siapa pun yang ingin membentuk hidupnya, harus terlebih dahulu membentuk pikirannya. Karena pikiran adalah rumah pertama tempat eksistensi manusia dirancang. "Sudahkah kita merawat rumah tempat diri kita bermula?"

Musim Dingin dan Hal-Hal yang Tak Kita Sukai

Gambar
oleh: M. Isman Nababan Ada saat-saat dalam hidup ketika kita menolak sesuatu, bahkan membencinya—bukan karena hal itu benar-benar buruk, tetapi karena kita belum siap menghadapinya. Saya teringat sebuah kalimat dalam novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi: "Aku suka dan benci dengan musim dingin." Kalimat ini sederhana, namun menyimpan makna yang dalam. Ia seolah membisikkan sebuah kemungkinan: bahwa kebencian kita tak selalu soal kualitas sesuatu itu sendiri, tetapi tentang ketidakmampuan kita menyingkap apa yang tersembunyi di baliknya. Kita kerap kali menilai masalah hanya dengan satu warna. Mengapa tidak dengan dua warna—hitam dan putih? Kita terburu-buru menghakimi, seolah dunia hanya terdiri dari baik dan buruk yang kaku. Musim dingin, misalnya, bagi sebagian orang adalah musim yang menyiksa: udara yang menusuk tulang, langkah kaki yang melambat, dan hari-hari yang terasa lebih panjang. Tapi di balik semua itu, ada pesona yang tak dimiliki musim lain: bangu...