Musim Dingin dan Hal-Hal yang Tak Kita Sukai
oleh: M. Isman Nababan
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita menolak sesuatu, bahkan membencinya—bukan karena hal itu benar-benar buruk, tetapi karena kita belum siap menghadapinya.
Saya teringat sebuah kalimat dalam novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi: "Aku suka dan benci dengan musim dingin." Kalimat ini sederhana, namun menyimpan makna yang dalam. Ia seolah membisikkan sebuah kemungkinan: bahwa kebencian kita tak selalu soal kualitas sesuatu itu sendiri, tetapi tentang ketidakmampuan kita menyingkap apa yang tersembunyi di baliknya.
Kita kerap kali menilai masalah hanya dengan satu warna. Mengapa tidak dengan dua warna—hitam dan putih? Kita terburu-buru menghakimi, seolah dunia hanya terdiri dari baik dan buruk yang kaku. Musim dingin, misalnya, bagi sebagian orang adalah musim yang menyiksa: udara yang menusuk tulang, langkah kaki yang melambat, dan hari-hari yang terasa lebih panjang. Tapi di balik semua itu, ada pesona yang tak dimiliki musim lain: bangunan yang tampak lebih indah diliputi salju, pepohonan meranggas yang tampak seperti lukisan sunyi, dan keheningan yang membuka ruang bagi perenungan.
Sering kali, hal-hal yang tampak buruk di awal justru adalah tempat di mana kebijaksanaan bertumbuh dalam diam. Kita membenci kegagalan, tapi darinyalah kita belajar tentang keuletan. Kita takut pada kesepian, padahal dalam sunyi itulah kita akhirnya bertemu dengan diri sendiri. Kita menghindari penderitaan, padahal justru penderitaanlah yang mengasah kepekaan kita terhadap makna.
Seperti musim dingin, hal-hal yang tak kita sukai sering kali menyimpan keindahan yang tak mungkin kita temukan di musim lainnya.
Semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar
Setiap pikiran yang hadir adalah cahaya tambahan dalam ruang perenungan ini.
Silakan tinggalkan jejak komentarmu—sebagai dialog, sebagai sumbang rasa, atau sekadar sapaan yang tulus.